Industri Kelapa Sawit


Harga Jual Turun Drastis, Petani Kopi, Sawit, & Kakao di Lampung Menjerit

Posted in News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008

TANGGAMUS – Dampak krisis ekonomi global mulai dirasakan sejumlah petani yang mengolah tanaman ekspor di Lampung. Sejumlah petani kopi, kakao, dan kelapa sawit mulai mengeluhkan penurunan drastis harga hasil bumi ekspor andalan Lampung tersebut.

Bahkan sebagian petani kopi di Kabupaten Tanggamus banyak yang beralih profesi karena pendapatan dari mengolah kopi tidak sebanding dengan modal penanaman.

Para pedagang kopi yakin penurunan harga masih akan terus berlangsung. “Kami tidak bisa berbuat banyak, Mas,” kata Tumino, salah seorang petani kopi di Tanggamus, Rabu (15/10/2008).

Tumino juga mengaku kasihan dengan teman-temannya yang terikat kontrak dengan eksportir lantaran harus memenuhi kuota dengan harga yang terus menurun. “Harganya sudah tidak sesuai, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat kontrak,” bebernya.

Para petani yang terikat kontrak tersebut tetap harus menyediakan kopi untuk kebutuhan ekspor dengan harga yang fluktuatif mengikuti harga kopi dunia.

Para petani mengaku, krisis ekonomi kali ini berdampak paling parah bagi mereka dibandingkan krisis 1997. Saat ini, harga kopi memang betul-betul jatuh hingga 35%. Saat ini harga kopi hanya mencapai Rp11 ribu per kilogram, jauh menurun dari harga sebelum Lebaran sebesar Rp17 ribu per kilogram.

Harga kakao juga turun cukup mencolok. Saat ini harga kakao di sentra perdagangan hanya berkisar pada harga Rp16.500 per kilogram. Sementara sebelum krisis, harga kakao masih berkisar pada Rp22 ribu per kilogram.

Sementara kerugian paling besar dialami oleh petani sawit. Harga sawit berumur 7 tahun yang tadinya masih berkisar pada angka Rp1.700 per kilogram, menurun drastis menjadi Rp700an per kilogram. Sementara untuk tandan buah segar (TBS) harganya turun Rp500 menjadi Rp1.300 per kilogram.

Para petani di Kabupaten Tulang bawang yang dihubungi mengaku tidak dapat berbuat banyak dengan penurunan ini. Sebagian petani memilih membiarkan sawit mereka membusuk di pohon sebagai ungkapan frustrasi mereka.

“Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi,” kata Sahdana, salah satu petani di Kabupaten Tulang Bawang penuh harap. (Aji Aditya Junior/Trijaya/jri)

Source : okezone.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: