Industri Kelapa Sawit


Adonis hints UK is wavering on biofuel targets

Ditulis dalam Biodiesel,Biofuel,News oleh raprapmedan pada Oktober 16, 2008
Tags: , ,
DUBLIN, Ireland, Oct 15, 2008 (BUSINESS WIRE) — Research and Markets ( http://www.researchandmarkets.com/research/d19600/canada_biofuels_ma) has announced the addition of the “Canada Biofuels Market Potential” report to their offering.
Biofuel is any fuel that is derived from biomass — recently living organisms or their metabolic byproducts, such as manure from cows. It is a renewable energy source, unlike other natural resources such as petroleum, coal, and nuclear fuels.
Ethanol is manufactured from microbial conversion of biomass materials through fermentation. Ethanol contains 35% oxygen. The production process consists of conversion of biomass to fermentable sugars, fermentation of sugars to ethanol, and the separation and purification of the ethanol. Fermentation initially produces ethanol containing a substantial amount of water. Distillation removes the majority of water to yield about 95% purity ethanol, the balance being water. This mixture is called hydrous ethanol. If the remaining water is removed in a further process, the ethanol is called anhydrous ethanol and is suitable for blending into gasoline. Ethanol is “denatured” prior to leaving the plant to make it unfit for human consumption by addition of a small amount of products such as gasoline.
Biodiesel fuels are oxygenated organic compounds — methyl or ethyl esters — derived from a variety of renewable sources such as vegetable oil, animal fat, and cooking oil. The oxygen contained in biodiesel makes it unstable and requires stabilization to avoid storage problems. Rapeseed methyl ester (RME) diesel, derived from rapeseed oil, is the most common biodiesel fuel available in Europe. In the United States, biodiesel from soybean oil, called soy methyl ester diesel, is the most common biodiesel. Collectively, these fuels are referred to as fatty acid methyl esters (FAME).
Biofuels have become a growth industry with worldwide production more than doubling in the last five years. The rapid expansion of ethanol production in the United States and biodiesel production (and to a lesser extent, biogas) in Germany and other countries in Western Europe has created a biofuels frenzy that has affected many countries, including Canada. Many measures have been used to stimulate production and consumption of biofuels, including preferential taxation, subsidies, import tariffs and consumption mandates. Recently, Canadian federal and provincial governments have announced consumption mandates and subsidies to assist rapid expansion of biofuel production in Canada.
Canada has considerable natural resources and is one of the world’s largest producers and exporters of energy. In 2006, Canada produced 21.1 quadrillion British Thermal Units (Btu) of total energy, the fifth largest amount in the world. Since 1980, Canada’s total energy production has increased by 86%, while its total energy consumption has increased by only 48% during that period. Almost all of Canada’s energy exports go to the United States, making it the largest foreign source of U.S. energy imports: Canada is consistently among the top sources for U.S. oil imports, and it is the largest source of U.S. natural gas and electricity imports. Recognizing the importance of the energy trade between the two countries, both participate in the North American Energy Working Group, which seeks to improve energy integration and cooperation between Canada, the U.S., and Mexico.
The report Biofuel Industry in Canada is a complete coverage of the ethanol and biodiesel market in the country.
source: businessgreen.com

What are the biofuel challenges?

Ditulis dalam Biodiesel,Biofuel oleh raprapmedan pada Oktober 16, 2008
Tags: , ,

Earth & Sky Radio Series
with hosts Deborah Byrd, Joel Block,
Lindsay Patterson and Jorge Salazar

Mike Goosey: Biofuels are derived from biomass, an organic raw material of living organisms and also their byproducts as well.

That’s biochemist Mike Goosey with Shell, speaking to us from the Thornton Research and Technology Center near Cheshire in the UK. One of the major biofuels today is bioethanol.

Mike Goosey: It is made through a traditional fermentation process. So very similar to the brewing or winery industry, it uses the sucrose from sugarcane. It can take starch from corn or wheat.

The other major biofuel is biodiesel.

Mike Goosey: And again the source, the biomass for that biofuel is commonly rapeseed, palm oil, soya bean as well in the States.

Many have questioned the use of food crops for fuel. But, in a world whose climate is changing, biofuels are seen by many experts and consumers as a necessary next step.

Mike Goosey: It’s not a silver bullet. And there will be other technologies that will contribute to this. But we do see biofuels as a significant contributor to reducing the CO2, and ultimately climate change that is facing us in the next 30, 40, 50 years.

There’s an additional challenge with biofuels. That is, fuel is needed to grow the crops used to make biofuels. In principle, biofuels are carbon neutral, but in practice farming the plants remains carbon intensive.

Mike Goosey: One of the challenges that the we do face as an industry is looking at is how to improve the yield of the biomass and also reduce the amount of energy that is put into growing that biomass. Something that industry and others are working on is how we can reduce the amount of fertilizer, how we can reduce the amount of water that’s required to generate the amount of biomass.

source: earthsky.org

BERITA FOTO: Penggundulan Hutan Terus Berlangsung di Papua

Ditulis dalam Berita Foto,News oleh raprapmedan pada Oktober 16, 2008
Tags: , , , , , ,
[ga llery]Kamis, 16 Oktober 2008 | 16:40 WIB
GREENPEACE mengumumkan bukti kegiatan penebangan ilegal di wilayah pengelolaan hutan (HPH) yang izinnya dibekukan di daerah Kaimana, Papua Barat. Foto-foto dikirim secara resmi oleh Greenpeace Southeast Asia kepada KOMPAS images.

Sebelumnya, Greenpeace juga menemukan pembukaan hutan sagu dan nipah untuk persiapan perkebunan kelapa sawit berskala besar milik grup Sinar Mas. Hutan alam asli Papua saat ini berada di bawah tekanan besar dari industri penebangan dan kelapa sawit.

Berbagai temuan ini menyusul pelayaran kapal Greenpeace MV Esperanza di Indonesia mengawali kampanye bertajuk Hutan untuk Iklim atau Forest for Climate di Jayapura, menyoroti dampak penggundulan hutan (deforestasi) di hutan alam terhadap perubahan iklim global, dan penyusutan keanekaragaman hayati dan penghancuran sumber-sumber penghidupan masyarakat pengguna kekayaan hutan. FIA
source: kompas.com

Taufik Kiemas Kritik Pemerintah

Ditulis dalam News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008
Rabu, 15 Oktober 2008 | 12:11 WIB

JAKARTA, RABU – Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) DPP PDI Perjuangan, Taufiq Kiemas menyesalkan sikap pemerintah yang terlalu reaktif dalam menghadapi krisis keuangan global. Seharusnya pemerintah sudah melakukan antisipasi sejak tahun lalu.

“Kan, krisis keuangan global ini sudah dibicarakan oleh para pakar sejak tahun lalu. Apalagi Indonesia sudah pernah mengalami krisis serupa,” ujar Taufik Kiemas Selasa malam (14/10) melalui email kepada Persda Network, Rabu (15/10).

Taufik Kiemas menjelaskan, selain tidak ada langkah yang antisipatif terhadap krisis tersebut, industri di Indonesia juga tidak memiliki kekuatan yang signifikan untuk menopang sistem perekonomian nasional. Selama empat tahun ini, katanya, industri di Indonesia tidak ada yang bisa menopang sistem perekonomian Indonesia.
 
“Kalaupun ada industri yang dibangun, itupun mirip tukang jahit. Contohnya, investasi di bidang sumberdaya alam, khususnya minyak. Semua investasi yang dilakukan di sektor perminyakan itu dilakukan melalui transaksi saham,” katanya.
 
Minyak yang dikeruk di Indonesia, jelas Taufik Kiemas, adalah minyak mentah yang kemudian dijual lagi keluar negeri. Akhirnya, hasil olahan dari minyak mentah itu justru dijual kembali ke Indonesia.
 
“Coba lihat, apakah selama sepuluh tahun ini ada kilang minyak baru yang dibangun? Atau ada nggak pabrik pupuk yang baru dibangun? Sektor perkebunan juga mengalami nasib serupa. Lahan perkebunan di Indonesia lebih banyak dikuasai Malaysia. Malaysia mengeruk bahan mentah dari kebun sawit di Indonesia berupa crude palm oil yang kemudian dijual ke luar negeri,” papar Taufik Kiemas.
 
Hasil olahan dari crude palm oil, sambungnya lagi, seperti sabun maupun kebutuhan pharmasi dijual lagi ke Indonesia. Ia kemudian menyarankan pada pemerintah untuk menerapkan industri yang mengarah ke borjuasi nasional untuk menopang sistem perekonomian nasional.
 
“Artinya, harus ada industri yang mendirikan pabrik, dimana pabrik itu mengolah dari mulai bahan mentah sampai bahan jadi. Yang lebih menyedihkan, pemerintah juga kurang memperhatikan pembangunan infrastruktur. Kalau infrastruktur dibangun lebih dahulu, biaya ekonomi yang ditanggung pengusaha pasti lebih murah. Dengan begitu, harga jual produk pengusaha itu bisa bersaing,” ungkapnya.

Rachmat Hidayat
Sumber : Persda Network
source: kompas.com

Ekspor CPO Oktober Bisa Kembali ke US$ 2 Miliar

Ditulis dalam News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008

Rabu, 08/10/2008 17:43 WIB
Suhendra – detikFinance

Jakarta – Penurunan pajak ekspor (PE) bulan Oktober menjadi 7,5% akan menyebabkan nilai ekspor Crude Palm Oil (CPO) kembali naik rata-rata menjadi US$ 2 miliar.

Departemen Perdagangan memperkirakan angka ini merupakan pencapaian rata-rata bulanan sepanjang 2008, bahkan lebih tinggi dari nilai ekspor bulan sebelumnya yang masih di bawah US$ 2 miliar.

Hal ini dikatakan oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida di Gedung Departemen Perdagangan Jl Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (8/10/2008).

“Umumnya kalau kita lihat data volume ekspor bulanan rata-rata US$ 2 miliar, waktu Juli hanya US$ 600 jutaan dan bulan kemarin mencapai US$ 1 miliar karena PE turun dari 15% ke 10%,” ujar Diah.

Dia menambahkan, sekarang ini pihaknya sedang mewaspadai kemungkinan penurunan permintaan ekspor akibat krisis finansial global termasuk bagi permintaan produk CPO.

“Sekarang sudah ada peraturan kewajiban untuk menyerap CPO sebagai biofuel mulai 2009 sehingga paling tidak kita harapkan akan kelebihan produksi CPO kita bisa terserap ke arah sana,” ungkapnya.

Menurut Diah, potensi negara-negara maju mengurangi permintaan konsumsi CPO sangat tinggi pada kondisi saat ini terutama bagi negara yang terkena krisis keuangan. Namun ia sangat yakin bagi negara-negara berkembang seperti India dan Pakistan masih sangat potensial untuk menyerap produk CPO Indonesia karena CPO belum memiliki alternatif lain sebagai bahan bakar nabati di negara-negara tersebut.(hen/ir)

source : detik.com

”Modalnya Rp750 per Kilo Dijual Rp200’’, Keluhan Petani Sawit di Tengah Melesunya Nilai Jual

Ditulis dalam News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008
15-October-2008

Rusli (40) warga Langgadai Hilir, Kecamatan Rimbamelintang, Kabupaten Rohil hanya bisa pasrah menyikapi dampak merosotnya nilai jual hasil panennya akibat pengaruh krisis global.

Laporan SYAHRI RAMLAN,
Rimbamelintang
syahri-ramlan@riaupos.co.id

‘’HARGA kelapa sawit yang dijual dengan harga antara Rp200 hingga Rp300 perkilogram itu, lantas apa yang kita dapatkan. Perlu untuk diketahui, kegiatan memanen sampai diantar ke tempat penimbangan itu, kita menggunakan biaya yang tidak sedikit. Misalkan saja, untuk upah mendodos buah sawit itu, kita membayarnya sebesar Rp50 per kilogram. Itu baru mendodos,’’ keluh Rusli dengan suara memelas.

Dana lain yang dikeluarkan lagi oleh Rusli ini yakni untuk kegiatan mengangkut dari lokasi kebun menuju ke tempat penimbangan. Kemudian, kegiatan menimbang, juga masih dikenakan biaya.

‘’Dana yang harus kita keluarkan mulai mendodos, mengangkut dan menimbang, besarnya mencapai Rp 150 per kilogram. Kemudian harga pupuk mencapai Rp 600 per goni ukuran 50 kilogram. Secara keseluruhannya dana yang harus dikerluarkan itu mencapai Rp 750. Sedangkan hasil jualnya hanya Rp200 hingga Rp300. Artinya, jangankan mendapatkan untung, malah kita tekor atau rugi setelah menjual buah sawit itu. Jangankan untuk menyimpan duit, untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak lepas,’’ kata Rusli.

Dampak krisis global yang gilirannya mampu mempengaruhi daya jual usaha khususnya di sektor perkebunan kelapa sawit, tampaknya telah menimbulkan pertanyaan besar bagi para petani. ‘’Katanya, harga jual kelapa sawit itu turun akibat krisis global. Lantas kenapa harga minyak dunia serta barang-barang komiditi termasuk sembako kok enggak turun. Malahan, ada kecenderungan untuk naik. Kalau harga minyak dunia dan komiditi termasuk sembako juga turun, saya pikir tidak masalah. Karena, kondisinya bisa berimbang dengan harga jual sawit tadi. Tapi, kalau yang lain tetap berada di level yang tinggi kemudian harga jual sawit turun, lantas kita mau dapat apa. Di tengah harga jatuh, harga kebutuhan yang lain naik,’’ kata Rusli.

Sebelum munculnya krisis global, masyarakat yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, setiap bulannya boleh dikatakan memiliki pemasukan ekonomi yang lumayan besar. Dimana, setiap kali panen, masyarakat mendapatkan keuntungan bersih setelah dipotong segala bentuk biaya pemeliharaan dan perawatan serta lainnya mencapai Rp800.000. ‘’Waktu harganya mencapai Rp1.200 per kilogram hingga Rp1.400 per kilogram, kita bisa menampung dan membiayai anak untuk sekolah. Dimana, kita mendapatkan keuntungan sebesar Rp800.000. Setelah ada krisis, tidak ada keuntungan,’’ kata Rusli.

Sektor tanaman keras lainnya yang ikuti dipengaruhi oleh krisis global, yakni karet. Dimana, sebelum krisis global mencuat di atas permukaan, harga karet mencapai antara Rp14.000 hingga Rp12.000 per kilogram.

Namun, setelah krisis global menjadi isu hangat yang dibicarakan tingkat dunia, harga karet langsung anjlok secara dratis menjadi antara Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Kendati demikian, usaha di sektor karet ini masih dinilai cukup bagus ketimbang perkebunan kelapa sawit. Dimana, karet yang telah dipanen tersebut bisa disimpan berhari-hari tanpa ada mengenal kata-kata membusuk dan sebagainya. Sedangkan buah kelapa sawit setelah dipanen dan dibiarkan selama tiga hari bisa membusuk dan tidak laku lagi dijual.

‘’Harga getah sekarang ini sudah jatuh sekali. Makanya, getah yang sudah kita ambil itu tidak langsung dijual. Melainkan kita simpan dulu di dalam air. Nanti setelah harganya stabil, getah itu baru kita keluarkan dari simpanannya dan langsung kita jual. Hanya saja, menunggu sampai kapan waktu harga itu normal, ya kita tidak tahu,’’ kata Syarifuddin (45) salah seorang petani karet, Kepenghuluan Baganpunak, Kecamatan Bangko.

Hingga, tidak mengherankan bila sejumlah parit yang ada di beberapa lokasi tanaman karet banyak terdapat getah yang terendam. Kalaupun ada yang dibawa keluar untuk dijual, hanya dilakukan dalam kondisi yang terpaksa. ‘’Kalau sudah terpaksa dan mendesak sekali, ya mau tidak mau getah itu kita jual saja. Hanya saja, tidak kita jual sekaligus. Yang lainnya tetap disimpan sampai menunggul harga jual getahnya normal kembali,’’ kata Syarifuddin.(bud)

source: rokanhilir.go.id

Harga Karet di Riau Anjlok

Ditulis dalam News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008
Rabu, 15 Oktober 2008 09:30 WIB
Penulis : Rudi Kurniawansyah
PEKANBARU–MI: Ribuan petani karet di Riau semakin terpukul karena harga getah karet terus anjlok hingga lebih dari 50 jika dibandingkan harga sebelumnya.

Harga getah karet saat ini hanya sekitar Rp4.000 per kilogram (kg). Padahal, sebulan lalu mencapai Rp13.000.

Anjloknya harga komoditas itu menyusul jatuhnya harga tandan buah segar (TBS) sawit ke titik terendah dalam dua tahun terakhir, yakni Rp250 per kg.

“Harga karet saat ini dihargai hanya Rp4.000 per kilogram. Dengan harga ini, kami hanya dapat mengantongi Rp320 ribu per 80 kg hasil panen sepekan,” kata Jumaris, petani karet di Desa Siabu, Kecamatan Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (14/10).

Padahal, ujar Jumaris, sebulan lalu para petani karet dapat mengantongi uang sebesar Rp1.040.000 untuk hasil panen seberat 80 kg. “Kami tidak tahu penyebab jatuhnya harga getah ini. Penurunan harga terjadi sejak September lalu,” jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh para petani karet di Kabupaten Rokan Hulu. Sebab, harga jual getah karet di tingkat tengkulak juga anjlok pada kisaran Rp4.000 sampai Rp4.500 per kg.

Jatuhnya harga karet otomatis berdampak negatif kepada para buruh penyadap getah karet. “Saya hanya mendapat Rp100 ribu untuk hasil panen getah selama sepekan. Jumlah sebesar itu mana cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Mujiono, salah seorang penyadap karet di Desa Sukadamai, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu.

Bagi buruh penyadap karet, ujarnya, penghasilan yang diperoleh mereka adalah sepertiga bagian hasil panen. Dua per tiga lainnya bagian pemilik kebun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perkebunan karet di Riau merupakan salah satu yang terbesar di Sumatra dengan luas 514.469 ha. Sedangkan lahan kelapa sawit luas perkebunannya mencapai 1.530.153 ha.

Sementara itu, harga TBS kelapa sawit sudah lebih dulu merosot dan kini hanya dihargai Rp250 per kg. Angka tersebut jauh dari normal, mengingat lonjakan harga pupuk di tingkat petani saat ini mencapai Rp600 ribu. (RK/BG/OL-01)
Source: mediaindonesia.com

Harga Jual Turun Drastis, Petani Kopi, Sawit, & Kakao di Lampung Menjerit

Ditulis dalam News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008

TANGGAMUS - Dampak krisis ekonomi global mulai dirasakan sejumlah petani yang mengolah tanaman ekspor di Lampung. Sejumlah petani kopi, kakao, dan kelapa sawit mulai mengeluhkan penurunan drastis harga hasil bumi ekspor andalan Lampung tersebut.

Bahkan sebagian petani kopi di Kabupaten Tanggamus banyak yang beralih profesi karena pendapatan dari mengolah kopi tidak sebanding dengan modal penanaman.

Para pedagang kopi yakin penurunan harga masih akan terus berlangsung. “Kami tidak bisa berbuat banyak, Mas,” kata Tumino, salah seorang petani kopi di Tanggamus, Rabu (15/10/2008).

Tumino juga mengaku kasihan dengan teman-temannya yang terikat kontrak dengan eksportir lantaran harus memenuhi kuota dengan harga yang terus menurun. “Harganya sudah tidak sesuai, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena terikat kontrak,” bebernya.

Para petani yang terikat kontrak tersebut tetap harus menyediakan kopi untuk kebutuhan ekspor dengan harga yang fluktuatif mengikuti harga kopi dunia.

Para petani mengaku, krisis ekonomi kali ini berdampak paling parah bagi mereka dibandingkan krisis 1997. Saat ini, harga kopi memang betul-betul jatuh hingga 35%. Saat ini harga kopi hanya mencapai Rp11 ribu per kilogram, jauh menurun dari harga sebelum Lebaran sebesar Rp17 ribu per kilogram.

Harga kakao juga turun cukup mencolok. Saat ini harga kakao di sentra perdagangan hanya berkisar pada harga Rp16.500 per kilogram. Sementara sebelum krisis, harga kakao masih berkisar pada Rp22 ribu per kilogram.

Sementara kerugian paling besar dialami oleh petani sawit. Harga sawit berumur 7 tahun yang tadinya masih berkisar pada angka Rp1.700 per kilogram, menurun drastis menjadi Rp700an per kilogram. Sementara untuk tandan buah segar (TBS) harganya turun Rp500 menjadi Rp1.300 per kilogram.

Para petani di Kabupaten Tulang bawang yang dihubungi mengaku tidak dapat berbuat banyak dengan penurunan ini. Sebagian petani memilih membiarkan sawit mereka membusuk di pohon sebagai ungkapan frustrasi mereka.

“Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi,” kata Sahdana, salah satu petani di Kabupaten Tulang Bawang penuh harap. (Aji Aditya Junior/Trijaya/jri)

Source : okezone.com

Harga Produk Pertanian Berjatuhan

Ditulis dalam Opini oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008
Rabu, 15 Oktober 2008 | 01:19 WIB

ANDREAS MARYOTO

Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian.

Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.

Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan.

Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.

Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.

Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang.

USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.

Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.

Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri.

Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.

Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.

Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang.

Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.

Sindikat internasional

Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.

Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya ”mengurus” utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.

Mempercepat kejatuhan

Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.

Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor.

Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif ”tenang-tenang saja” menangani masalah ini.

Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.

Source :http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/15/01192860/harga.produk.pertanian.berjatuhan

Harga CPO dan TBS Terus Turun

Ditulis dalam News oleh raprapmedan pada Oktober 15, 2008

Kamis, 25 September 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.

Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.

‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.

Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.

‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.

Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.

‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.

Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.

Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.