Industri Kelapa Sawit


Antisipasi Harga Anjlok, Koperasi Olah Sawit Jadi Migor

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 18, 2008
Tags: , ,
Jumat, 17 Oktober 2008 | 13:21 WIB

PADANG, JUMAT -  Satu koperasi di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, akan mengolah kelapa sawit menjadi minyak goreng. Upaya ini dilakukan pengelola koperasi untuk mengantisipasi anjloknya harga sawit.

Hal itu disampaikan pengurus koperasi kepada pemerintah daerah setempat. “Langkah ini baik untuk mengembangkan kekuatan koperasi sekaligus mengantisipasi merosotnya harga sawit,” tutur Asisten Sekretaris Daerah Sumbar, Surya Dharma Sabirin, Jumat (17/10).

Hingga kini, Sumbar hanya mempunyai satu pabrik yang mengolah CPO menjadi minyak goreng, atau sekitar dua persen dari produksi CPO di Sumbar. Selebihnya, CPO diekspor ke negara-negara di Asia. Merosotnya harga minyak dunia berimbas pada anjloknya harga sawit.

Agnes Rita Sulistyawaty

Saat Sawit Bukan Lagi Primadona

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 18, 2008
Tags: , , , ,
Jumat, 17 Oktober 2008 | 07:34 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Syahnan Rangkuti (23) masih bisa tersenyum. Walau  kecut. Sesekali ia juga tertawa, tetapi ketawa itu pun sumbang. Ketika dijumpai di areal kebun kelapa sawit miliknya, ia baru saja menjual hasil panen tandan buah segar sawit sebanyak 1 ton.

Bahori

Selasa, menjelang senja, ia sendiri saja di tengah kebunnya seluas 2 hektar di Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau—sekitar 200 kilometer dari Pekanbaru.

Dengan harga tandan buah segar (TBS) sekarang ini yang hanya Rp 300 per kilogram, ayah seorang bayi itu tentunya mendapat penghasilan Rp 300.000. Tetapi, tunggu dulu. Hitungan matematis itu belum putus. Bahori harus mengeluarkan uang Rp 50.000 untuk upah melangsir (membawa TBS dari kebunnya ke pinggir jalan besar dengan menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda). Dia juga harus mengeluarkan uang Rp 300.000 untuk membayar upah tiga pekerja harian masing-masing Rp 100.000 untuk memanen selama dua hari. ”Saya nombok Rp 50.000. Namun, apa boleh buat. Saya memilih untuk tetap memanen karena kata orang, kalau tidak dipanen, nanti pohon sawit rusak dan tidak mau berbuah lagi,” kata Bahori.

Untuk menutup utang, Bahori kembali ke profesi lama, yaitu menjadi buruh di kebun orang lain. Sepanjang Selasa itu dia bekerja di kebun orang. Upahnya Rp 60.000 sehari. Alhasil, setelah membayar utang Rp 50.000, penghasilan bersihnya hari itu hanya Rp 10.000.

Syaifudin yang memiliki kebun seluas 5 hektar juga senasib dengan Bahori. Hari itu ia mempekerjakan enam orang untuk panen sebanyak 2 ton. Padahal, masih ada 2 ton lagi TBS siap panen.

”Biarlah 2 ton lagi itu tetap dipohonnya sampai panen dua minggu lagi. Mana tau harga bisa membaik. Kalau pohonnya mau rusak, biarlah. Asal jangan seluruhnya,” kata Syaifudin.

Syaifudin mengatakan, ia mendapat uang Rp 600.000 dari panen sebanyak 2 ton. Namun uang itu langsung dipotong Rp 240.000 untuk upah empat buruh angkut TBS ke tempat penumpukan dan Rp 140.000 lagi untuk upah dua pendodos (pemetik buah dari pohon). Pendapatannya masih berkurang lagi karena harus membayar upah melangsir dengan mobil Rp 100.000. Artinya, penghasilan bersih hari itu sebesar Rp 120.000 untuk hasil panen sebanyak 2 ton.

”Sebelum harga anjlok, biasanya saya mendapat uang minimal Rp 4 juta dari sekali panen. Dalam satu bulan panen dua kali atau Rp 8 juta sebulan. Sekarang ini hitung saja pendapatan saya,” kata Syaifudin.

Tentang upah melangsir yang mahal lebih disebabkan buruknya kondisi jalan ke perkebunan petani.

Tidak mengherankan bila biaya untuk mengangkut satu ton TBS dari kebun ke pinggir jalan yang berjarak sekitar 1 kilometer, petani harus membayar Rp 50.000 atau Rp 50 per kilogram.

Di sebuah desa eks transmigrasi, biaya transportasi bahkan mencapai Rp 200 per kilogram atau Rp 200.000 per ton. Hal itu disebabkan jalan hancur dan jaraknya lebih dari 5 kilometer.

Namun tidak semua jalan ke perkebunan petani di Rokan Hulu, begitu buruk. Di sebuah tempat tidak jauh dari kota Pasirpengarayan, ibu kota Kabupaten Rokan Hulu, jalan menuju perkebunan seorang kuat di Rokan Hulu ternyata diaspal hotmiks dengan lebar 12 meter.

Cerita manis pemilik kebun sawit di Riau tersebut saat ini sudah berubah menjadi cerita duka. Harga TBS Rp 300 per kilogram, menurut Ardiman Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Cabang Rokan Hulu, sama seperti kondisi 12 tahun lalu saat menjelang krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997. ”Dulu sebelum krismon, harga sawit memang Rp 300 per kilogram, tetapi harga-harga barang masih jauh lebih murah dibandingkan sekarang. Waktu itu harga beras masih ada yang Rp 1.000 per kilogram. Pada saat krismon dahulu, petani kami justru menikmati hasil karena harga sawit naik menjadi Rp 800 sampai Rp 1.000 per kilogram. Sekarang ini petani sawit yang mengalami krisis,” kata Daulay yang memiliki 2.500 anggota dengan lahan 118.000 hektar.

Menurut Daulay, bukan hanya petani yang mengalami krisis. Pedagang pengumpul mengalami nasib sama. Kusno, seorang tauke sawit (sebutan untuk pedagang pengumpul), sudah meminta keringanan kepada Bank BRI setempat untuk menunda pembayaran cicilan utangnya.

Sebelum harga anjlok, Kusno meminjamkan uang kepada petani, nilainya Rp 200 juta. Ini biasa dilakukan toke sawit agar petani mau menjual buah kepada mereka. Seluruh uang berasal dari pinjaman di Bank BRI. Sekarang ini seluruh piutang Kusno tidak dapat ditagih, karena petani peminjam tidak mampu membayar. ”Kalau BRI tidak bersedia menunda cicilan, rumah Kusno akan segera disita bank,” ujar Daulay.

Menurut Daulay, petani dari Desa Tandun sampai mencoba bunuh diri, meminum obat serangga, karena dililit utang Rp 200 juta di bank dan tidak dapat membayar. Untungnya, niat bunuh diri cepat ketahuan keluarganya dan si petani dapat diselamatkan.

Krisis sawit seperti musim kemarau yang merontokkan segala sesuatu. Empat hari lalu, empat sepeda motor ditarik dealer karena petani menunggak cicilan. Lalu, dua pabrik kelapa sawit di Rokan Hulu, yaitu di Desa I, Ujung Batu, dan Petapahan, terpaksa pula ditutup karena cadangan CPO pabrik belum terjual.

Krisis keuangan global kali ini, eksesnya ternyata menjalar tanpa ampun kepada petani kecil. Sayangnya, 80 persen dari 2.500 anggota Apkasindo Rokan Hulu merupakan petani kecil dengan lahan rata-rata 2 hektar.

”Yang kami harapkan, pemerintah mau minta perbankan menunda pembayaran cicilan petani. Kalau tidak, akan lebih banyak petani sawit yang stres atau gila,” kata Daulay.

Sumber : KOMPAS

DPD Desak Pemerintah Atasi Kelangsungan Hidup Petani Sawit

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 18, 2008
Tags: , , , , ,

17 Oktober 2008 | 14:54 WIB

JAKARTA (Berita) : Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ir Nurdin Tampubolon  mendesak pemerintah untuk segera mengatasi kelangsungan hidup petani Sawit yang  mengalami kesulitan akibat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit .

“Hendaknya dengan kondisi tersebut Pemerintah segera bergerak cepat mengambil langkah- langkah penyelamatan secara jangka pendek dan menengah akibat gejolak harga tersebut,  “ ujar Nurdin Tampubolon, pagi tadi di Jakarta, menanggapi keluhan petani sawit di Sumut dan daerah lain, seperti Sumsel, Lampug, dan Riau.         

Disamping itu, Nurdin juga menyarankan kepada pemerintah untuk mempertimbangkan pencabutan  kebijakan pemerintah untuk memberlakukan Pungutan Ekspor (PE) Crude Palm Oil(CPO) .

Untuk meringankan beban petani ditengah anjloknya harga TBS, Nurdin menyarankan, ada baiknya  dana PE dikembalikan kepada petani dan stakeholder lainnya secara proporsional.

Dia mengakui  akibat harga yang anjlok , banyak  petani kepala sawit kini menunda panen TBS karena hanya memperoleh untung tipis. “Pemerintah harus segera menanggulangi anjloknya harga sawit.. Jika dibiarkan, dua hingga tiga bulan ke depan petani sawit Riau benar benar gulung tikar, “ kata Nurdin Tampubolon (aya)

source: beritasore.com

Harga TBS Turun, Pemupukan Ditunda

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 17, 2008
Tags: , , , , , , ,
Jumat, 17 Oktober 2008 | 01:35 WIB

Jakarta, Kompas – Harga tandan buah segar kelapa sawit merosot sehingga petani harus menunda pemupukan karena tidak mampu menyediakan dananya. Menunda pemupukan akan berpengaruh pada produktivitas kelapa sawit.

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani mandiri saat ini Rp 350-Rp 500 per kilogram. Adapun harga TBS petani plasma yang bermitra dengan pabrik pengolahan kelapa sawit masih Rp 800-Rp 1.000 per kilogram.

Padahal, harga harga pupuk urea nonsubsidi, pupuk KCL, dan NPK mencapai Rp 8.000 per kilogram, seperti ketika harga TBS masih di kisaran Rp 1.650 per kilogram di bulan Juli.

Sejumlah petani mandiri dan plasma yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (16/10), meminta pemerintah membantu mengatasi masalah ini.

Menurut Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Rahmat Tani di Besitang Langkat, Sumatera Utara, Muhammad Yunus Ginting, setiap hari harga TBS di Kabupaten Langkat turun. KUD Rahmat Tani kini menjual TBS ke pabrik pengolahan dengan harga Rp 895 per kilogram, padahal sebelumnya Rp 1.110 per kilogram.

”Bagaimana mau beli pupuk dan merawat kebun. Di tempat kami banyak petani yang harus merelakan sepeda motornya ditarik karena tak mampu membayar cicilan,” kata Lukman Nul Hakim (34), petani mandiri di Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, harga minyak sawit mentah (CPO) Indonesia lebih murah dibandingkan dengan harga yang ada di pasar internasional. Ini karena ada pungutan ekspor yang dibebankan pengusaha CPO kepada petani, yaitu harga TBS petani dibeli lebih rendah 20 persen dari seharusnya. (ham)

source: cetak.kompas.com

Jatuhnya Harga sawit, Cerita Manis Itu Kini Berubah Duka

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 17, 2008
Tags: , , , ,

Syahnan Rangkuti

Bahori (23) masih bisa tersenyum. Walau senyum itu kecut. Sesekali ia juga tertawa, tetapi ketawa itu pun sumbang. Ketika dijumpai di areal kebun kelapa sawit miliknya, ia baru saja menjual hasil panen tandan buah segar sawit sebanyak 1 ton.

Selasa, menjelang senja, ia sendiri saja di tengah kebunnya seluas 2 hektar di Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau—sekitar 200 kilometer dari Pekanbaru.

Dengan harga tandan buah segar (TBS) sekarang ini yang hanya Rp 300 per kilogram, ayah seorang bayi itu tentunya mendapat penghasilan Rp 300.000. Tetapi, tunggu dulu. Hitungan matematis itu belum putus. Bahori harus mengeluarkan uang Rp 50.000 untuk upah melangsir (membawa TBS dari kebunnya ke pinggir jalan besar dengan menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda). Dia juga harus mengeluarkan uang Rp 300.000 untuk membayar upah tiga pekerja harian masing-masing Rp 100.000 untuk memanen selama dua hari. ”Saya nombok Rp 50.000. Namun, apa boleh buat. Saya memilih untuk tetap memanen karena kata orang, kalau tidak dipanen, nanti pohon sawit rusak dan tidak mau berbuah lagi,” kata Bahori.

Untuk menutup utang, Bahori kembali ke profesi lama, yaitu menjadi buruh di kebun orang lain. Sepanjang Selasa itu dia bekerja di kebun orang. Upahnya Rp 60.000 sehari. Alhasil, setelah membayar utang Rp 50.000, penghasilan bersihnya hari itu hanya Rp 10.000.

Syaifudin yang memiliki kebun seluas 5 hektar juga senasib dengan Bahori. Hari itu ia mempekerjakan enam orang untuk panen sebanyak 2 ton. Padahal, masih ada 2 ton lagi TBS siap panen.

”Biarlah 2 ton lagi itu tetap dipohonnya sampai panen dua minggu lagi. Mana tau harga bisa membaik. Kalau pohonnya mau rusak, biarlah. Asal jangan seluruhnya,” kata Syaifudin.

Syaifudin mengatakan, ia mendapat uang Rp 600.000 dari panen sebanyak 2 ton. Namun uang itu langsung dipotong Rp 240.000 untuk upah empat buruh angkut TBS ke tempat penumpukan dan Rp 140.000 lagi untuk upah dua pendodos (pemetik buah dari pohon). Pendapatannya masih berkurang lagi karena harus membayar upah melangsir dengan mobil Rp 100.000. Artinya, penghasilan bersih hari itu sebesar Rp 120.000 untuk hasil panen sebanyak 2 ton.

”Sebelum harga anjlok, biasanya saya mendapat uang minimal Rp 4 juta dari sekali panen. Dalam satu bulan panen dua kali atau Rp 8 juta sebulan. Sekarang ini hitung saja pendapatan saya,” kata Syaifudin.

Tentang upah melangsir yang mahal lebih disebabkan buruknya kondisi jalan ke perkebunan petani.

Tidak mengherankan bila biaya untuk mengangkut satu ton TBS dari kebun ke pinggir jalan yang berjarak sekitar 1 kilometer, petani harus membayar Rp 50.000 atau Rp 50 per kilogram.

Di sebuah desa eks transmigrasi, biaya transportasi bahkan mencapai Rp 200 per kilogram atau Rp 200.000 per ton. Hal itu disebabkan jalan hancur dan jaraknya lebih dari 5 kilometer.

Namun tidak semua jalan ke perkebunan petani di Rokan Hulu, begitu buruk. Di sebuah tempat tidak jauh dari kota Pasirpengarayan, ibu kota Kabupaten Rokan Hulu, jalan menuju perkebunan seorang kuat di Rokan Hulu ternyata diaspal hotmiks dengan lebar 12 meter.

Cerita manis pemilik kebun sawit di Riau tersebut saat ini sudah berubah menjadi cerita duka. Harga TBS Rp 300 per kilogram, menurut Ardiman Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Cabang Rokan Hulu, sama seperti kondisi 12 tahun lalu saat menjelang krisis moneter melanda Indonesia tahun 1997. ”Dulu sebelum krismon, harga sawit memang Rp 300 per kilogram, tetapi harga-harga barang masih jauh lebih murah dibandingkan sekarang. Waktu itu harga beras masih ada yang Rp 1.000 per kilogram. Pada saat krismon dahulu, petani kami justru menikmati hasil karena harga sawit naik menjadi Rp 800 sampai Rp 1.000 per kilogram. Sekarang ini petani sawit yang mengalami krisis,” kata Daulay yang memiliki 2.500 anggota dengan lahan 118.000 hektar.

Menurut Daulay, bukan hanya petani yang mengalami krisis. Pedagang pengumpul mengalami nasib sama. Kusno, seorang tauke sawit (sebutan untuk pedagang pengumpul), sudah meminta keringanan kepada Bank BRI setempat untuk menunda pembayaran cicilan utangnya.

Sebelum harga anjlok, Kusno meminjamkan uang kepada petani, nilainya Rp 200 juta. Ini biasa dilakukan toke sawit agar petani mau menjual buah kepada mereka. Seluruh uang berasal dari pinjaman di Bank BRI. Sekarang ini seluruh piutang Kusno tidak dapat ditagih, karena petani peminjam tidak mampu membayar. ”Kalau BRI tidak bersedia menunda cicilan, rumah Kusno akan segera disita bank,” ujar Daulay.

Menurut Daulay, petani dari Desa Tandun sampai mencoba bunuh diri, meminum obat serangga, karena dililit utang Rp 200 juta di bank dan tidak dapat membayar. Untungnya, niat bunuh diri cepat ketahuan keluarganya dan si petani dapat diselamatkan.

Krisis sawit seperti musim kemarau yang merontokkan segala sesuatu. Empat hari lalu, empat sepeda motor ditarik dealer karena petani menunggak cicilan. Lalu, dua pabrik kelapa sawit di Rokan Hulu, yaitu di Desa I, Ujung Batu, dan Petapahan, terpaksa pula ditutup karena cadangan CPO pabrik belum terjual.

Krisis keuangan global kali ini, eksesnya ternyata menjalar tanpa ampun kepada petani kecil. Sayangnya, 80 persen dari 2.500 anggota Apkasindo Rokan Hulu merupakan petani kecil dengan lahan rata-rata 2 hektar.

”Yang kami harapkan, pemerintah mau minta perbankan menunda pembayaran cicilan petani. Kalau tidak, akan lebih banyak petani sawit yang stres atau gila,” kata Daulay.

Di Balik Anjloknya Harga Sawit

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 17, 2008
Tags:

Jumat, 17 Oktober 2008 00:01 WIB

Harga tandan buah segar yang semula Rp2.800 per kilogram, tiba-tiba terpuruk ke angka Rp250 per kilogram.

SIANG itu Yono bersama para petani sawit hanya tampak duduk di bangku tempat penimbangan sawit rakyat sambil menghisap sebatang rokok. Sejak harga tandan buah segar turun, petani di sana lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan berkumpul di warung yang bersebelahan dengan tempat penimbangan sawit.
Biasanya siang itu, Yono bersama puluhan petani lainnya sudah berada di tengah rerimbunan pohon kelapa sawit yang teduh.
Mereka memetik tandan demi tandan buah sawit dengan besi runcing berbentuk tombak.
Kini rutinitas itu tidak lagi dilakukan para petani. Kebun sawit yang selalu menjadi sahabat setia dalam keseharian mulai tampak sepi dari aktivitas mendodos (memanen).
“Jika harga tandan buah segar turun lagi, kami tidak akan mendodos. Kami akan biarkan buah-buah sawit itu membusuk di pohon,” kata Yono, 39, petani sawit di Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, saat Media Indonesia menghampirinya, kemarin (15/10).
Yono bersama puluhan petani sawit di Kecamatan Kempas hanya bisa pasrah tatkala harga tandan buah segar turun drastis ke level terendah Rp250 per kilogram.
Mereka sama sekali tidak menyangka, hanya dalam hitungan hari pasca-Lebaran, harga tandan buah segar yang semula Rp2.800 per kilogram, tiba-tiba terpuruk ke angka Rp250 per kilogram.
“Kami hingga kini tidak tahu sama sekali kenapa harga sawit anjlok. Sebagai petani kami hanya bisa berharap pemerintah dapat memperhatikan nasib petani yang nasibnya kian hari kian menjerit,” ujarnya.
Menurut Yono, sejak harga TBS terpuruk, ekonomi ratusan petani yang mengantungkan hidup dengan berkebun sawit mulai terpukul. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu harga sawit kembali normal.
Sebagian petani kini juga sudah mulai meminjam uang ke tengkulak untuk menutupi biaya hidup sehari-hari. Anjloknya harga sawit menjadi dilema bagi ratusan petani di Kabupaten Indragiri Hilir.
Hasil memetik dan memanen sawit yang cuma dihargai dengan Rp250 per kilogram sama sekali tidak memberikan secercah harapan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini untuk mendodos sawit dan melangsir ke tepi jalan saja mereka harus mengeluarkan biaya operasional Rp200 per kilogram.
Sementara sisa penjualan yang didapat sekitar Rp50 per kilogram hanya cukup untuk membersihkan pokok sawit agar dahan dan pohonnya tidak membusuk.
“Jadi sama sekali kami tidak mendapat apa-apa bila tetap harus memanen sawit,” keluh Yono.
Bila dalam beberapa hari ke depan harga TBS terus anjlok, ratusan petani di Kecamatan Kempas akan membawa hasil panennya untuk di tumpuk dan dibiarkan membusuk di depan kantor Bupati dan DPRD Indragiri Hilir sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai lamban memperhatikan nasib petani.
Kondisi serupa juga dialami oleh para petani sawit di Kabupaten Kuantan Singingi Siak, Kampar, Pelalawan, Bengkalis, dan Kota Dumai.
Sementara itu, Abdul Kadir, 50, petani sawit di Kabupaten Kampar menyebutkan, kondisi petani sawit semakin sulit karena harga-harga pupuk juga terus mengalami peningkatan.
Harga pupuk di tingkat petani terus mengalami kenaikan. Misalnya, NPK saat ini sudah mencapai Rp500.000 per karung, urea Rp300.000 per karung, dan KCL Rp400.000 per karung.
Dilema yang dialami oleh para petani sawit saat ini memang begitu berat. Impian untuk bisa hidup sejahtera lewat bertani sawit, kini berangsur-angsur pudar oleh kondisi yang sama sekali tidak mereka ketahui apa sebabnya.
Bila harga tandan buah segar terus mengalami penurunan, sudah bisa dipastikan ribuan petani sawit akan jatuh dan terperosok kembali ke jurang kemiskinan. (N-4)

Benny Andriyos

source: mediaindonesia.com

Pengusaha Kelapa Sawit Desak Penerapan PE CPO 0%

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 17, 2008
Tags: , , , ,

Jumat, 17/10/2008 09:16 WIB
Suhendra – detikFinance

Jakarta – Para pelaku pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah agar segera menerapkan pajak ekspor (PE) 0% untuk minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Anjloknya harga CPO menyebabkan semua pelaku usaha sawit sampai petani pun terkena imbasnya.

Penerapan PE 0% diharapkan bisa membuat daya beli produsen CPO terhadap harga tanda buah segar (TBS) di tingkat petani bisa lebih bagus.

Hal ini dikatakan oleh Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun saat dihubungi detikFinance, Jumat (17/10/2008).

“Para asosiasi beserta Gapki meminta pemerintah meninjau, dengan penerapan PE 0 % dalam waktu singkat. Kita khawatir pemerintah tidak bisa cepat,” ujarnya.

Derom mengakui kondisi saat ini sudah cukup meresahkan para petani, karena harga yang rendah akan mengganggu cash flow dan bisa mengorbankan mutu pemelihaaan tanaman termasuk pupuk di tingkat petani. Maklum selama ini harga TBS produksi petani sangat tergantung dengan harga CPO.

“Kalau boleh hari ini diterapkan. Itu yang kita harapkan, setelah krisis ini pemerintah bisa mengeluarkan Perpu, apalagi soal PE kenapa tidak,” ujarnya.

Menurutnya dari penerapan PE 7,5% pada Oktober, pada posisi harga CPO di Rotterdam saat ini US$ 565 per ton dengan dipotong biaya-biaya maka harga yang bisa diterima produsen hanya mencapai Rp 3.800 per kilo yang diperkirakan mampu membeli harga TBS petani seharga Rp 600 per kilo

Sebelumnya Gapki dan asosiasi lainnya mengusulkan kepada Departemen Perdagangan untuk menerapkan PE 0% pada harga di bawah US$ 850 per ton, 2,5% dari harga US$ 850 sampai US$ 949 per ton, 5% untuk harga US$ 950 sampai US$ 1.049. “Seperti biasa, seterusnya setiap naik US$ 100 naik 2,5%,” imbuhnya.(hen/ddn)

ANJLOKNYA HARGA SAWIT, Dishub Riau Ngaku Tak Mampu Berbuat Apa-Apa

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 16, 2008
Tags: , ,

16 Oct 2008 15:37 wib
ad

PEKANBARU (RiauInfo) – Harapan para petani sawit agar pemerintah dapat turun tangan dalam menghadapi makin anjloknya harga buah sawit ternyata hanya tinggal harapan. Pihak pemerintah melalu Dinas Perkbunan Riau menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi masalah ini.

Kepala Dinas Perkebunan Riau Susilo mengaku pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi anjloknya harga sawit dan karet ini. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi ini dipengaruhi krisis ekonomi internasional, ditambah dengan masa panen raya di berbagai negara,” jelasnya.

Dia mengatakan di tengah situasi seperti saat ini pemerintah daerah tidak bisa memberikan solusi konkrit karena semua kebijakan menjadi hak pemerintah pusat. “Kita hanya bisa berdoa semoga krisis ini cepat berakhir sehingga harga sawit dan karet normal kembali,” tambahnya.

Namun begitu Susilo telah mengingatkan para pemilik Pabtik Kelapa Sawit (PKS) bisa bersikap bijak dengan tidak menolak membeli buah sawit masyarakat. Jika ada ada PKS yang menolak sawit tanpa alasan yang jelas akan mendapat teguran keras dari instansinya.

Ketika ditanya sampai kapan kondisi ini akan berlangsung, Susilo mengatakan tidak bisa dipastikan kapan berakhirnya, bisa saja sampai beberapa bulan ke depan. Karena itu dia minta para petani bisa memenej keuangannya dengan baik, sehingga kondisi ini tidak membuat mereka bangkrut.(ad)

source: riauinfo.com

DPR DESAK PEMERINTAH ATASI KELANGSUNGAN HIDUP PETANI SAWIT

Rabu, 15 Oktober 2008
JAKARTA (MMF) – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) meniai kebijakan pemerintah memberlakukan Pungutan Ekspor (PE) Crude Palm Oil (CPO) secara progresif dalam pelaksanaan ekspor COPO dinilai sangat merugikan petani dan eksportir Indonesia.
Demikian diungkapkan oleh Sekjen DPP APKASINDO Asmar Arsjad saat audiensi dengan komisi IV DPR RI yang membidangi masalah perkebunan, pertanian, kehutanan, Rabu (15/10) di gedung DPR/MPR RI, Jakarta.

Diungkapkan APKASINDO, PE CPO yang berlaku saat ini sebesar 7,5 persen dari harga rata-rata CPO Rotterdam USD 610/MT (Matriks Ton) menyebabkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tungkat petani sebesar pukul rata
Rp600/kg, sementar harga pokok petani Rp800/kg TBS. “Artinya petani mengalami kerugian sebesar Rp200/kg. Kondisi ini tidak bisa dipertahankan dengan dalih apapun, ” ujar Asmar.

Menurut Asmar yang didampingi oleh Gapkasino Sumut, petani Riau dan Petani Jambi, pihaknya telah berulang kali menghimbau pemerintah agar PE CPO tidak diberlakukan secara progrresif dan maksimal pemerintah hanya memberlakukan PE CPO sebesar 5 persen. Disamping itu dana PE yang sekarang ditengarai terkumpul Rp25 triliun, hendaknya dikembalikan kepada petani dan stakeholder lainnya secara proporsional.

Anggota komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Azwar Chesputra berpendapat Anjloknya harga sawit saat ini karena dampak krisis keuangan dunia, ditambah lagi dengan adanya kebijaksanaan Pemerintah menaikkan pajak ekspor progresif. Akibatnya banyak produksi sawit di tingkat petani tidak bisa terjual dengan tertumpuk begitu saja. Selain itu juga diakibatkan panen raya berbagai tanaman kompetitor sawit di dunia, diperparah dengan ketidakmampuan pabrik kelapa sawit menampung hasil sawit petani.

Hingga saat ini, pemerintah belum bisa menanggulangi anjloknya harga sawit. Padahal Pemerintah harus mempertimbangkan untuk mencabut pajak ekspor progresif atau dengan menurunkannya hingga 0 persen

“Hendaknya dengan kondisi tersebut Pemerintah segera bergerak cepat mengambil langkah-langkah penyelamatan secara jangka pendek dan menengah akibat gejolak harga tersebut, ” ujar Azwar Chesputra

Dampak merosotnya harga sawit secara drastis juga menyebabkan para petani sawit di Riau sangat terpukul. Pasalnya mereka yang sebelumnya menikmat harga sawit hingga Rp2000/kg, kini mereka harus gigit jari karena  harga sawit anjlok hingga Rp 680/kg. Akibatnya petani sawit kini mengeluh atas harga TBS yang anjlok, sementara harga pupuk dan sapradi lainnya terus meningkat.

“Para petani kepala sawit kini menunda panen TBS karena hanya memperoleh untung tipis. Bahkan para petani kelapa sawit tidak memupuk sawitnya karena mahalnya pupuk, ” ujarnya.

Ditambahkan Azwar, saat ini jumlah kebun kelapa sawit di Riau telah mencapai sekitar 50 persen yang dimiliki dan dikelola oleh petani-petani kelas bawah yang hanya memiliki satu atau dua hektar kebun sawit. Berbeda dengan petani, pengusaha transportasi justru memanfaatkan hujan dan isu kenaikan harga dengan menaikkan tarif sebesar 15 persen. “Pemerintah harus segera menanggulangi anjloknya harga sawit. Jika dibiarkan, dua hingga tiga bulan ke depan petani sawit Riau benar benar gulung tikar, ” katanya. (aR/bmb)

source: mambangmit.com

Harga CPO dan TBS Terus Turun

Ditulis dalam Harga TBS,News oleh raprapmedan pada Oktober 16, 2008
Tags: , , ,
Kamis, 25 September 2008
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru lismar-sumirat@riaupos.co.id Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
KABAR tak sedap bagi petani dan pengusaha kelapa sawit. Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit menjelang Idul Fitri justru kembali anjlok.
Sesuai keputusan rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit Provinsi Riau yang digelar Selasa (23/9) lalu, untuk TBS umur tanaman tiga tahun hanya Rp736,59 per kilogram, sedangkan TBS dari tanaman umur 10 tahun keatas Rp1.029,13.

‘’Harga CPO terus menurun. Kalau dulu per kilogram CPO bisa mencapai Rp7.000-8.000, sedangkan saat ini satu kilogram CPO hanya Rp4.798. Dari sini saja jelas, harga TBS sawit menjadi turun,’’ ungkap Kasubdin Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Feri Hc menjawab Riau Pos, kemarin.

Menurut Feri anjloknya harga TBS kelapa sawit disebabkan oleh tiga hal yakni suplai sawit yang sedang melimpah dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia, permintaan pasar dunia yang juga berkurang dan panen bunga matahari dan kedelai di Eropa.

‘’Saat ini kita termasuk Malaysia sedang panen sawit. Sawit jadi melimpah, sedangkan permintaan tidak mengalami peningkatan. Ditambah lagi di Eropa saat ini musim kedelai dan bunga matahari yang juga diolah menjadi minyak goreng di negara-negara Eropa. Sehingga CPO kita jadi sulit menempus pasar internasional,’’ ulasnya lebih lanjut.

Secara rinci harga TBS umur tiga tahun adalah Rp736,59, empat tahun Rp822,65, lima tahun Rp880,65, enam tahun Rp906,14, tujuh tahun Rp940,75, delapan Rp970,07, sembilan tahun Rp1.001,17 dan umur sepuluh tahun ke atas adalah Rp1.029,13 per kilogram.

‘’Dari harga TBS sebelumnya turun sekitar Rp140,2 per kilogram. Kalau terus turun, kasihan petani sawit, bisa-bisa untuk menutup biaya pupuk saja tidak turun,’’imbuhnya. Feri mengaku tidak dapat berbuat banyak terkait kembali anjloknya harga TBS kelapa sawit di Riau. Apalagi harga TBS dipengaruhi oleh harga CPO. ‘’Kalau harga CPO anjlok, tentu harga sawit tetap anjlok. Rapat Tim Penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit, juga berpedoman kepada harga CPO,’’ sebutnya.

Harga TBS kepala sawit diperkirakan akan terus anjlok hingga Oktober mendatang. ‘’Kemungkinan akhir tahun, harga sawit sudah kembali normal,’’katanya.

Penetapan harga jual TBS di Riau, dilakukan oleh sebuah tim penetapan harga yang difasilitasi oleh Dinas Perkebunan Riau, dimana tim terdiri dari sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di Riau serta petani kelapa sawit yang tergabung dalam wadah koperasi. Tim inilah kemudian yang merumuskan besaran harga TBS dengan berpatokan pada harga CPO di pasaran internasional, dan harga TBS yag ditetapkan terus dilakukan evaluasi setiap dua minggu sekali.(fas)

source: riaupos.com

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.